Akhir Tahun
Sebentar lagi, seluruh penduduk
dunia akan mengakhiri tahun 2008, berganti dengan tahun baru 2009. Hampir
bersamaan, umat Islam... + Selengkapnya
Nasionalisme
Ketika Jenderal (Purn) Try Sutrisno menjabat wakil presiden 1988-1993, seringkali ia melontarkan kata-kata persatuan dan kesatuan. Rekan-rekan... + Selengkapnya
Usut Korupsi di KetapangRatusan massa dari pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) mendesak Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). Mereka... + Selengkapnya
Vonis 4 Tahun untuk Darlis Ilyas Mantan Kepala Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau Darlis Ilyas kini harus menjalani hidup di balik jeruji besi. Ia haya tertuduk lesu ketika... + Selengkapnya
Akhirnya pemerintah memilih menghentikan untuk
sementara waktu (moratorium) pemekaran wiliyah, sebagai buntut tewasnya Ketua
DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat di Medan,
Biasanya
kesejahteraan rakyat selalu dihembus-hembuskan untuk mempengaruhi masyarakat
agar menyetujui pemekaran. Tapi pada ahirnya semuanya sadar bahwa kesejahteraan
itu tidak ada hubungannya dengan pemekaran. Bahkan muncul raja-raja kecil dan korupsi
pun meraja lela.
Orang awam mungkin hanya mengenal lembaga-lembaga intelijen terkenal
seperti CIA, KGB, MI 6 dan Mossad. Ya memang cuma itu yang terkenal. Banyak
lembaga intelijen asing belajar dari mereka, temasuk Indonesia barangkali.
Sepak terjang intelijen tidak
selamanya mulus. Terkadang ada hal-hal yang di luar akal sehat namun terjadi,
intelijen sehebat apapun bisa saja kebobolan.
Nama
Adam Malik, mantan wakil presiden dan wartawan yang meninggal pada September
1984 atau setahun setelah tidak menjabat wakil presiden, tiba-tiba muncul ke permukaan.
Itu gara-gara tulisan Tim Weiner, wartawan the New York Times dalam bukunya
‘Legacy of Ashes: The History of CIA’ (2007), yang menyebut Si Kancil, demikian
biasa Adam Malik dipanggil, sebagai agen CIA. Tentu saja banyak yang menyangkal
Si Kancil agen CIA.