Akhir Tahun
Sebentar lagi, seluruh penduduk
dunia akan mengakhiri tahun 2008, berganti dengan tahun baru 2009. Hampir
bersamaan, umat Islam... + Selengkapnya
Nasionalisme
Ketika Jenderal (Purn) Try Sutrisno menjabat wakil presiden 1988-1993, seringkali ia melontarkan kata-kata persatuan dan kesatuan. Rekan-rekan... + Selengkapnya
Usut Korupsi di KetapangRatusan massa dari pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) mendesak Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). Mereka... + Selengkapnya
Vonis 4 Tahun untuk Darlis Ilyas Mantan Kepala Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau Darlis Ilyas kini harus menjalani hidup di balik jeruji besi. Ia haya tertuduk lesu ketika... + Selengkapnya
Sebentar lagi, seluruh penduduk
dunia akan mengakhiri tahun 2008, berganti dengan tahun baru 2009. Hampir
bersamaan, umat Islam di seluruh dunia pun menyambut tahun baru 1430H.
Ketika Jenderal (Purn) Try Sutrisno menjabat wakil presiden 1988-1993, seringkali ia melontarkan kata-kata persatuan dan kesatuan. Rekan-rekan wartawan yang biasa meliput kegiatan kepresidenan, rasanya (maaf) bosan sekali mendengar kata-kata stereotape itu. Bahkan ada apa ‘Cuma’ itu yang dimiliki Pak Try?
Jauh sebelum itu, Canada ketika dipimpin oleh PM Pierre Elliott Trudeau, seorang politikus yang sangat flamboyan minta rakyat Canada bersatu. Permintaan figur yang memimpin Canada selama 16 tahun itu, disampaikannya ketika negara bagian Quebeq ingin melepaskan dari dari daratan Canada. Kita harus bersatu, kita harus satu, kita harus maju. Itu kata Tredeau.
Sedikit di bawah Canada, ada negara adidaya Amerika. Sekitar 1995-an ketika ratusan ribu orang Negro berdemo di Tugu Potlot, Washington DC menuntut peningkatan tunjangan kesehatan dan pendidikan, Presiden Bill Clinton menyerukan agar semua rakyat Amerika bisa menahan diri menjaga persatuan.
Di balik dinding-dinding kokoh, megah nan mewah, tidak selamanya memberi jaminan bahwa yang terjadi di balik kekokohan, kemegahan dan kemewahan itu selaras dengan norma-norma peradaban manusia. Para wakil rakyat yang menghuni Gedung DPR/MPR di Senayan, sebetulnya harus merasa berada di dalam rumahnya rakyat, bukan di dalam rumah mereka sendiri yang membuat mereka bisa berbuat bebas sesuka hati. Tapi inilah yang terjadi. Para wakil rakyat yang terhormat itu, meski beberapa gelintir yang tertangkap basah berbuat amoral; wanita dan korupsi namun tetap memberikan citra bahwa begitu rendahnya moralitas yang me reka miliki, amat tidak sebanding de ngan segala kemudahan dan kemewahan yang mereka terima dari negara.