Home arrow Rubrik arrow Tajuk arrow Moral

Arsip Artikel

Tajuk

Akhir Tahun

article thumbnail Sebentar lagi, seluruh penduduk dunia akan mengakhiri tahun 2008, berganti dengan tahun baru 2009. Hampir bersamaan, umat Islam...
+ Selengkapnya

Nasionalisme

article thumbnail Ketika Jenderal (Purn) Try Sutrisno menjabat wakil presiden 1988-1993, seringkali ia melontarkan kata-kata persatuan dan kesatuan. Rekan-rekan...
+ Selengkapnya

Lainya

Kilas Korupsi

Usut Korupsi di Ketapang

article thumbnaiRatusan massa dari pemuda dan masyarakat yang tergabung dalam Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) mendesak Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK). Mereka...
+ Selengkapnya

Vonis 4 Tahun untuk Darlis Ilyas

article thumbnaiMantan Kepala Badan Kesejahteraan Sosial (BKS) Riau Darlis Ilyas kini harus menjalani hidup di balik jeruji besi. Ia haya tertuduk lesu ketika...
+ Selengkapnya

Lainya

Politik

Fadel Muhammad Di antara Megawati dan Sutiyoso

article thumbnail  Sejumlah tokoh mulai mendekati Fadel...
+ Selengkapnya

Internasional

Barat Menekan Iran Melawan

article thumbnail Perseteruan antara Barat dengan Iran soal...
+ Selengkapnya

Tentara Amerika Frustasi dan Depresi

article thumbnai Menang bertempur belum tentu menang perang,...
+ Selengkapnya

Lainya

    Sekilas Info

    Mantan Bupati Purwakarta Lily Hambali Hasan diujung penantian. Belum lama ini, jaksa penuntut umum menjatuhkan tuntutan kepadanya 5 tahun penjara. Berapa tahu vonis hukuman yag bakal dijatuhkan majelis hakim kepadanya?
     
    Massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berunjuk rasa di depan Gedung Konjen Amerika Serikat di Surabaya. Mereka menolak keinginan kongres AS yang meminta pemerintah Indonesia membebaskan dua tokoh Organisasi Papua Merdeka.
     
     
    Moral Print E-mail
    Monday, 11 August 2008

    Di balik dinding-dinding kokoh,
    megah nan mewah,
    tidak selamanya memberi
    jaminan bahwa yang terjadi
    di balik kekokohan,
    kemegahan dan kemewahan
    itu selaras dengan norma-norma
    peradaban manusia.

    Para wakil rakyat yang menghuni
    Gedung DPR/MPR di Senayan, sebetulnya
    harus merasa berada di dalam
    rumahnya rakyat, bukan di dalam rumah
    mereka sendiri yang membuat mereka
    bisa berbuat bebas sesuka hati.
    Tapi inilah yang terjadi. Para wakil
    rakyat yang terhormat itu, meski beberapa
    gelintir yang tertangkap basah
    berbuat amoral; wanita dan korupsi namun
    tetap memberikan citra bahwa begitu
    rendahnya moralitas yang me reka
    miliki, amat tidak sebanding de ngan
    segala kemudahan dan kemewahan
    yang mereka terima dari negara.

    moral.jpg 

     

    Menyangkut moralitas, masyarakat
    secara beruntut disuguhi oleh sejumlah
    peristiwa yang menunjukkan
    runtuhnya moralitas mereka. Belum
    hilang dalam ingatan masyarakat rekaman
    mesum anggota DPR Yahya Zaini
    dengan Maria Eva, kita dikejutkan oleh
    penangkapan anggota dewan Al Amin
    Nasution. Disamping disangka melakukan
    tindakan korupsi, penangkapan Al
    Amin juga menyisakan cerita tentang
    kemesraan dengan wanita lain.


    Rusaknya moralitas anggota dewan
    tidak saja terlihat dari cerita-cerita
    perselingkuhan atau kemesraan mereka
    dengan wanita lain, tetapi nampak
    secara jelas dari tuduhan korupsi yang
    kini sedang ditangani KPK. Di sam ping
    Al Amin, beberapa anggota dewan juga
    sedang disidik oleh KPK berkaitan
    dengan kasus aliran dana BI. Daftar
    nama itu akan menjadi panjang jika kita
    masukkan nama-nama anggota, ketua
    DPRD berbagai daerah yang tersangkut
    tindak pidana korupsi.


    Tak bisa dipungkiri bahwa DPR
    sempat menjadi lembaga ‘super body’
    sejak lengsernya orde baru. Bahkan
    ada kecenderungan rasa takut dari para
    penegak hukum untuk mengambil sebuah
    tindakan tegas termasuk memproses
    secara hukum para anggota
    DPR, karena kuatnya posisi bargaining
    lembaga ini.
    Satu hal yang kita kuatirkan adalah
    dekadensi moral di Senayan itu akan
    memicu masyarakat untuk tidak menggunakan
    hak pilihnya dalam Pemilu
    2009, alias golput.


    Beberapa waktu lalu masyarakat
    dijejali aneka pemberitaan media massa
    soal Max Moein. Untuk Bung yang satu
    ini, urusannya tidak sekadar terekam
    tengah memeluk seorang gadis yang
    hampir bugil, tetapi ia juga harus menghadapi
    tudingan berbagai pelecehan seksual
    dari bekas sekretarisnya di DPR.
    Kasus-kasus itu tentu saja makin
    menguatkan kesan busuk rakyat terhadap
    anggota DPR. Kesan itulah kemudian
    yang memicu masyarakat malas
    menggunakan hak pilih pada pemilu.


    Pemilu yang diharapkan menjadi
    mekanisme perwakilan dalam memperjuangkan
    kepentingan rakyat, ternyata
    banyak yang dibelokkan oleh anggota
    dewan terpilih untuk mengeruk kepentingan
    pribadi. Banyak dari anggota
    dewan yang lupa untuk apa sebenarnya
    mereka dipilih dan atas jasa siapa
    mereka bisa menikmati kursi empuk
    Senayan itu!


    Kode etik Dewan Perwakilan Rakyat
    (DPR) seharusnya menjadi normanorma
    moral untuk menilai perilaku
    dan ucapan anggota Dewan agar memenuhi
    kaidah kepatutan, kewajiban,
    dan larangan.


    Masyarakat sebenarnya menyadari
    bahwa banyak juga anggota dewan yang
    masih berpegang pada prinsip moral
    dan etika. Tetapi kenyataan seperti
    yang terungkap di permukaan itu cukup
    membuat kita prihatin. Keprihatinan
    itu bukan saja atas tindakan asusila
    yang mereka lakukan, tetapi juga
    karena telah terjadi pengkhianatan atas
    amanah perwakilan yang telah diberikan
    rakyat dalam pemilu legislatif.


    Kepada para wakil rakyat itu marilah
    kita serukan bahwa mereka menjadi
    panutan dan ukuran, bahwa apa yang
    mereka lakukan itulah cerminan masyarakat
    secara keseluruhan. Kalau baik
    ya baik, kalau tidak ya sebaliknya.

     
    < Prev
     
    Laporan Khususcukup 150 juta dolar

    article thumbnai Sebenarnya, jika pemerintah benar-benar berniat atau punya kemauan politik...
    + Selengkapnya

    Laporan KhususPerseteruan Abadi SBY-Mega

    article thumbnail Politisi kelas wahid...
    + Selengkapnya

    Laporan UtamaMuncul Raja Kecil Korupsi Meraja Lela

    article thumbnai Biasanya kesejahteraan rakyat selalu dihembus-hembuskan untuk mempengaruhi...
    + Selengkapnya

    Laporan KhususAnjing dan Sepatu Perpisahan

    article thumbnail Barangkali, ini penghinaan terbesar bagi seorang presiden dari negara...
    + Selengkapnya

    Artikel Lainya