| Akhir Tahun + Selengkapnya |
| Nasionalisme + Selengkapnya |
| Lainya |
| Usut Korupsi di Ketapang + Selengkapnya |
| Vonis 4 Tahun untuk Darlis Ilyas + Selengkapnya |
| Lainya |
| Muncul Raja Kecil Korupsi Meraja Lela + Selengkapnya |
| Sepak Terjang Intelijen Beken + Selengkapnya |
| Lainya |
| Fadel Muhammad Di antara Megawati dan Sutiyoso + Selengkapnya |
| Barat Menekan Iran Melawan + Selengkapnya |
| Tentara Amerika Frustasi dan Depresi + Selengkapnya |
| Lainya |
| Tentara Amerika Frustasi dan Depresi |
|
|
| Tuesday, 02 September 2008 | |
|
Menang bertempur belum tentu menang perang, itulah yang berlalu di medan perang. Ini pula yang terjadi pada tentara Amerika baik di Irak maupun di Afghanistan. Kekalahan hanya menunggu waktu. Tanggal 2 Mei 2003, Presiden George W Bush dengan bangga dan mungkin setengah sombong menegaskan kemenangan Amerika di Irak. Pidato kemenangan itu dilontarkan di atas kapal induk USS Abraham Lincoln. Ia mengaitkan konflik di Teluk itu dengan serangan teroris 11 September 2001 di Amerika, yang meluluhlantakkan menara kembar Worl Trade Center. Kala itu, Bush juga menyebut keberhasilan pasukan Amerika di Afghanistan, sembari memperingatkan bahwa jaringan Al-Qaeda belumlah hancur. "Kita akan terus memburu musuh sebelum mereka menyerang," katanya di depan ratusan tentara yang bersorak sorai di kapal itu. Bush sah-sah saja menyatakan menang saat itu. Kenyataannya lima tahun Amerika menjajah Irak, negara itu tidak benar-benar bisa menguasai Irak. Tidak hanya itu perlahan tapi pasti jumlah pasukan Amerika yang tewas semakin bertambah. Pada 24 Juni 2008, sebuah serangan bom kembali menelan korban tiga tentara Amerika dan seorang penerjemahnya di provinsi Nineveh, kata militer Amerika. Ketiga tentara dan penerjemahnya itu terbunuh, namun sumber militer tidak memastikan dimana tepatnya serangan itu dilakukan di daerah Nineveh. Dengan kematian ini berarti jumlah tentara yang tewas di Irak sejak Maret 2003 sekitar 4109 orang. Tetapi sumber independen mengatakan jumlah yang sebenarnya bisa lebih separuhnya dari yang diumumkan pemerintah Amerika resmi. Tentara Amerika yang tewas diperkirakan lebih besar dari angka resmi itu, mengingat tidak transparannya jumlah tentara yang tewas. Disamping tewas, tentara penjajah juga mengalami depresi berat. Selain tidak kuat dengan serangan tiada henti yang dilakukan oleh pejuang Irak, mereka juga semakin ragu, untuk apa mereka berperang di Irak. Pasukan Amerika kehilangan orientasi dan motifasi perang. Di sisi lain mereka melihat yang lebih diuntungkan dari perang ini adalah perusahan minyak yang kaya raya, bukan rakyat Amerika.
Bunuh diri
Sementara itu, kasus bunuh diri di antara veteran perang Irak dan Afghanistan meningkat menjadi sebuah epidemik. Lebih dari 6000 veteran bunuh diri pada tahun 2005, menurut riset dari CBS News. Dengan estimasi setiap bulan terjadi kasus 1000 orang yang bunuh diri. Kopral James Jenkin dari New Jersey adalah salah satu korban perang. Dia mendapatkan tanda jasa atas ikut serta dalam perang Irak dan melakukan pertempuran di Najaf, dia kemudian bunuh diri setelah melaksanakan tugasnya selama 22 bulan. Ibunya, Cynthia Fleming, menceritakan kepada ANP. Berdasarkan berita dari AP (27/7-08) yang dikutip oleh Muslimdaily News menyebutkan, lebih dari 22.000 veteran telah mendapatkan pertolongan dari percobaan bunuh diri mereka pada tahun ini, dan 1221 kasus bunuh diri bisa dialihkan, kata pemerintah Amerika. Menurut riset dari Rand Corporation, satu dari lima tentara yang dipulangkan dari Irak dan Afghanistan mengalami trauma yang sangat akut, dan menjadikan mereka sangat berisiko bunuh diri. Penelitian dari Portland State University menyatakan bahwa lelaki yang menjadi veteran perang mempunyai hasrat ingin bunuh diri dua kali lipat dari lelaki yang bukan veteran perang. Layanan sosial masyarakat mendapatkan panggilan telepon 250 kali sehari- dua kali lebih besar dari biasanya, kebanyakan dari penelepon itu adalah para veteran perang Irak, Afghanistan dan perang Vietnam yang ingin mendapatkan bantuan. Hasil penelitian Rand Corporation tahun 2008 sekitar 300 ribu tentara Amerika yang kembali dari Irak dan Afghanistan, menderita gejala kelainan stres pasca-traumatik atau depresi, dan setengah dari mereka tidak mendapat perawatan, ungkap suatu studi independen. Penelitian oleh Rand Corporation itu juga memperkirakan bahwa 320 ribu tentara lainnya kemungkinan mengalami cedera otak traumatik saat bertugas. Jumlah personil angkatan darat Amerika yang bunuh diri kembali mengalami peningkatan tahun lalu di tengah berkobarnya aksi kekerasan dalam pertempuran di Irak dan Afghanistan. Terdapat 108 tentara Amerika yang bunuh diri pada tahun 2007 atau terdapat kenaikan 6 personil apabila dibandingkan pada tahun 2006. Jumlah tentara Amerika yang melakukan aksi bunuh diri ini tercatat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Seperempat dari kasus bunuh diri itu berlangsung di Irak. Pada tahun 1990 hingga 1991, jumlah tentara Amerika yang melakukan bunuh diri adalah 102 personil. Hal yang sama dialami tentara Inggris. Pada tahun 2006 saja, setiap bulannya lebih dari 60 tentara Inggris atau sekitar sepuluh persen dari total tentara Inggris di Irak mengalami gangguan mental. Surat kabar Inggris The Independent edisi Kamis (15/6/2006 ) melaporkan hal tersebut, mengutip pernyataan kantor kementerian pertahanan Inggris. Perang di Irak, tidak hanya membuat tentara Inggris mengalami gangguan mental tapi banyak di antara mereka yang memilih keluar dari dinas kemiliteran atau disersi. BBC pada Minggu (28/5/06) lalu mengungkapkan, sedikitnya ada 1.000 personil yang meninggalkan tugas tanpa izin dan tidak pernah kembali. Surat kabar terbitan Ameirka New York Times menurunkan sebuah laporan yang secara mengejutkan menyebutkan bahwa sebanyak 3.196 pasukan Amerika desersi sepanjang tahun 2006 dari tugas di Irak dan Afghanistan. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya. Dalam polling yang dilakukan Le Moyne College and Zogby International (2006) bertema ‘Tentara Amerika di Irak' menunjukkan, bahwa mayoritas tentara Amerika di Irak menginginkan Washington untuk segera mengakhiri penjajahannya di Irak dalam waktu satu tahun ini, seiring makin melemahnya dukungan di kalangan masyarakat Amerika sendiri terhadap kebijakan perang pemerintahnya di Irak. Hasil polling menunjukkan, 72% responden meyakini bahwa Amerika harus segera angkat kaki dari Irak dalam satu tahun ini.
Menunggu waktu Kekalahan pasukan Amerika dan sekutunya di Irak dan Afghanistan tampaknya tinggal menunggu waktu. Moral pasukan Amerika dan sekutnya yang rapuh membuat tentara Amerika yang memiliki senjata yang canggih menjadi lemah. Padahal pasukan mujahidin jumlahnya tidaklah begitu besar, peralatannya juga kalah jauh dari negara Paman Sam itu. Namun dorongan semangat jihad untuk mengusir penjajah yang menghinakan kaum muslim telah menjadi senjata yang paling menakutkan bagi penjajah. Perang di Irak dan Afghanistan telah menghancurkan mitos bahwa pasukan Amerika tidak bisa dikalahkan. Apalagi kebencian rakyat Irak terhadap pasukan penjajah pun terus meningkat. Kalaulah tidak didukung oleh penguasa boneka pengkhianat di Irak dan Afghanistan, pasukan penjajah itu pasti sudah terusir dari bumi jihad.tbr |
| < Prev |
|---|
| Laporan Khususcukup 150 juta dolar + Selengkapnya | Laporan KhususPerseteruan Abadi SBY-Mega + Selengkapnya |
| Laporan UtamaMuncul Raja Kecil Korupsi Meraja Lela + Selengkapnya | Laporan KhususAnjing dan Sepatu Perpisahan + Selengkapnya |
| Artikel Lainya | |