| Akhir Tahun + Selengkapnya |
| Nasionalisme + Selengkapnya |
| Lainya |
| Usut Korupsi di Ketapang + Selengkapnya |
| Vonis 4 Tahun untuk Darlis Ilyas + Selengkapnya |
| Lainya |
| Muncul Raja Kecil Korupsi Meraja Lela + Selengkapnya |
| Sepak Terjang Intelijen Beken + Selengkapnya |
| Lainya |
| Fadel Muhammad Di antara Megawati dan Sutiyoso + Selengkapnya |
| Barat Menekan Iran Melawan + Selengkapnya |
| Tentara Amerika Frustasi dan Depresi + Selengkapnya |
| Lainya |
| Muncul Raja Kecil Korupsi Meraja Lela |
|
|
| Thursday, 19 February 2009 | |
|
Biasanya
kesejahteraan rakyat selalu dihembus-hembuskan untuk mempengaruhi masyarakat
agar menyetujui pemekaran. Tapi pada ahirnya semuanya sadar bahwa kesejahteraan
itu tidak ada hubungannya dengan pemekaran. Bahkan muncul raja-raja kecil dan korupsi
pun meraja lela.
Hati-hati, jika kebablasan sampai dengan 2025, jumlah
provinsi di
”Setelah pemilihan legislatif dan
presiden, jangan dibuka lagi kesempatan untuk mengajukan proposal pemekaran
daerah,” kata Dekan Fisipol UGM Pratikno. Jika hanya ditunda, masyarakat di
daerah akan melihat ada peluang untuk memperjuangkan pemekaran daerah.
Sejak otonomi daerah berlaku, sudah ada 165 daerah baru terbentuk baik
propinsi maupun kabupaten/kota. Anggota Komisi II DPR RI Ryaas Rasyid mengibaratkan
pemekaran ini seperti perusahaan yang mau bangkrut, tapi terus buka cabang di
mana-mana. "Kalau tidak gila, ya bodoh sekali," katanya dalam sebuah
diskusi di
Delapan tahun terakhir ini memang banyak daerah yang
berbondong-bondong membiakkan propinsi dan kabupaten/kota. Langkah ini
mempunyai tujuan untuk menarik dana dari pemerintah pusat ke daerah. Maraknya
pemekaran wilayah ini terkait struktur APBN yang kaku. Ini terlihat dari cara
pengalokasian anggaran ke daerah yang tidak berbasis kebutuhan melainkan secara
administrasi pemerintahan. Ketika daerah membutuhkan sentra pertumbuhan ekonomi
baru, mereka tak bisa mengajukan dana ke pusat. Satu-satunya cara tersisa
melalui pembentukan daerah baru.
Lucunya, semua provinsi atau kabupaten/kota baru ini
langsung berstatus otonom. Artinya, pemerintah pusat harus langsung menyediakan
semua sarana dan prasarana pendukung pemerintahan di daerah. Pemerintah harus
menyediakan beragam keperluan daerah baru mulai gedung perkantoran, mobil
dinas, dan rumah dinas Gubernur/Bupati/Walikota hingga pembentukan DPRD. Belum
lagi pemerintah pusat juga harus menganggarkan Dana Alokasi Umum (DAU), Dana
Alokasi Khusus (DAK), hingga dan bagi hasil sumber daya alam.
Di balik itu, upaya pemekaran itu membuat banyak orang
sangat senang terutama yang terlibat didalamnya. Dengan model pemekaran seperti
ini, Ryaas mencatat ada tiga kelompok utama yang paling besar merasakan
keuntungan yaitu birokrat, partai politik (Parpol), dan pengusaha setempat.
Pemekaran wilayah membuka lowongan pejabat yang tentu
memberi kesempatan birokrat memegang jabatan. “Sehingga banyak birokrat yang
berdoa siang malam agar terjadi pemekaran wilayah di daerahnya,” kata Ryaas
yang juga dikenal sebagai pakar otonomi.
Buat pengusaha, kesempatan menjadi penyedia berbagai
kebutuhan daerah baru di atas sangat terbuka lebar. Apalagi buat pengusaha yang
telah berpartisipasi sejak awal pembentukan daerah.
Sedangkan Parpol dan politisi daerah mendapat manfaat
dengan adanya DPRD baru. Calon legislatif di provinsi dan Kabupaten/Kota dari
daerah asal yang sebelumnya gagal menyandang gelar anggota dewan, bisa duduk di
kursi empuk parlemen.
Inilah yang membuat pemerintah pusat seakan tak
berdaya dengan kejadian ini. Ryaas mencatat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
hanya sebatas mengeluhkan masalah ini selama dua tahun
berturut-turut dalam pidato kenegaraannya di depan anggota Dewan Perwakilan
Daerah. Ini juga tak lepas dari polah wakil rakyat di Senayan yang tidak pernah
menggagalkan usulan pemekaran wilayah.
Tak heran, saat ini pemekaran wilayah sudah menjadi
lahan korupsi yang basah bahkan dari awal pembentukannya. Ryaas menyebut
maraknya aksi pemekaran wilayah ini sudah bertentangan dengan prinsip good governance. "Saya usul
Presiden membuat Perpu Moratorium Pemekaran Wilayah," kata Mantan Menteri
Dalam Negeri di era Presiden Abdurrahman Wahid, seperti dilansir KONTAN. .
Memang banyak pihak mensinyalir pemekaran wilayah ini
menjadi ajang korupsi besar-besaran. Bahkan, pemekaran wilayah sebenarnya telah
menjadi proses pemiskinan daerah. Banyak daerah baru yang tidak mempunyai
kemampuan secara ekonomis. Akibat pemekaran, pemerintah memecah DAU dan DAK
suatu daerah menjadi dua, untuk daerah asal dan daerah baru. Pada
akhirnya, dua daerah ini sama-sama tak lagi mampu memenuhi kebutuhan mereka.
Sejak lama Pemerintah pusat sebenarnya berkeinginan
untuk mengerem pemekaran. Tapi rem mereka secara teknis pemerintahan tak pakem
untuk menahan laju pemekaran. Apalagi ketika berhadapan dengan kekuatan politis
yang menjadi katalisator. Tak heran, semakin banyak lah daerah yang benar-benar
menggantungkan hidupnya pada pemerintah pusat. Dari 165 daerah baru, 95%-nya
bergantung ke pusat.
Pemahaman keliru
Pemahaman otonomi daerah kadang dipahami oleh sebagian
daerah secara tidak utuh alias separuh atau sebagian saja. Otonomi daerah
seperti menjadi senjata ampuh untuk membuat tuntutan bersifat memaksa kepada
pemerintah pusat dengan opsi dimekarkan
atau keluar dari NKRI.
Jelas hal ini sudah bertentangan dengan semangat
otonomi daerah yang selalu mengedepankan semangat kesatuan dan persatuan.
Otonomi lebih banyak diartikan sebagai kekuasaan utuh yang dimiliki, yang
akhir-akhir ini telah menimbulkan pertentangan tidak hanya bersifat vertikal
malah cenderung melebar pada pertentangan horizontal.
Konsep dasar otonomi daerah menyiratkan bahwa
keleluasaan yang diberikan akan selalu diikuti oleh tugas dan kewajiban daerah
berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik,
pengembangan kehidupan demokrasi, keadilan dan pemerataan, serta memelihara
hubungan yang serasi antara pemerintah pusat dan daerah dan antar daerah dalam
rangka menjaga keutuhan NKRI.
Timbulnya raja-raja kecil daerah memang tidak
sepenuhnya benar, tapi adanya keinginan untuk berkuasa dan menjadi raja kecil
pada tingkatan kerajaan kab/kota juga tidak serta merta bisa disangkal.
Kita tidak mengharamkan adanya pemekaran sepanjang
memenuhi persyaratan, bukan dengan melakukan manipulasi data yang pada akhirnya
akan membuat suatu daerah menjadi hidup segan mati tak mau, dimana pada APBD
tidak lagi memiliki perbandingan yang wajar antara belanja pegawai dengan belanja
publik. Di Kabupaten Samosir misalnya perbandingan untuk belanja publiknya
tidak lebih dari 10%. Apa yang terjadi…..? APBD hanya dihabiskan untuk belanja
pegawai yang meliputi gaji dan tunjangan, lalu mengapa terus dipertahankan…?
Melirik dari sebagian pemekaran daerah yang ada,
Justru efek yang mesti mendapatkan perhatian lebih adalah adanya bibit
perpecahan yang diawali dengan adanya keegoan masing-masing daerah. Coba
bayangkan begitu sulitnya pemerintah Pusat dan Propvinsi hanya untuk
menyelesaikan persengketaan batas wilayah antar Kabupaten/kota yang sampai
memakan waktu bertahun-tahun. begitu besarkah ‘kekuasaan’ Kabupaten/kota
sehingga bisa menolak keputusan pusat sebagai induk kekuasaan di negara ini…? Menurut pengamat membatalkan konsep otonomi adalah hal yang mustahil, namun pengaturan lebih jelas dan tegas seharusnya sudah dilakukan. Otonomi adalah konsep keadilan dan pemerataan bukan konsep pembagian kekuasaan. Anggapan otonomi identik dengan pemekaran adalah kurang tepat, tapi pemberdayaan daerah yang ada itu yang lebih diutamakan. Jangan sampai dengan alasan otonomi lalu seenaknya untuk membentuk daerah baru tapi malah mematikan kabupaten induk. Masyarakat tidak memaksakan pemekaran tapi masyarakat hanya ingin menyampaikan rasa keadilan. ini artinya tercapai keadilan tidak perlu ada pemekaran.tbr
Juni 2008 DPR Sahkan Pemekaran 10 kabupaten/kota baru di sejumlah provinsi.
·
Kabupaten
·
·
Bengkulu Tengah
(Bengkulu)
·
Sungai Penuh
(Jambi)
·
Toraja Utara
(Sulsel)
·
Bolaang Mongondow
Timur (Sulut)
·
Bolaang Mongondow
Selatan (Sulut)
·
·
|
|
| Last Updated ( Thursday, 19 February 2009 ) |
| < Prev | Next > |
|---|
| Laporan Khususcukup 150 juta dolar + Selengkapnya | Laporan KhususPerseteruan Abadi SBY-Mega + Selengkapnya |
| Laporan UtamaMuncul Raja Kecil Korupsi Meraja Lela + Selengkapnya | Laporan KhususAnjing dan Sepatu Perpisahan + Selengkapnya |
| Artikel Lainya | |